Selasa, 07 Januari 2020

Pembangunan Lobby Universitas Sahid Jakarta

                                            

Pembangunan Lobby yang terletak di lantai satu Universitas Sahid Jakarta terlihat hampir rampung. Saat ini Universitas Sahid masih sedang merenovasi gedung dengan perlahan dan lobby ini sendiri sudah berjalan cukup lama dalam pembangunannya. 

Lobby di lantai satu yang sebelumnya hanya sedikit ruang, sekarang menjadi luas dan lebih banyak nilai fungsionalnya. Mulai dari aula terbuka yang bisa dijadikan alternatif setelah aula yang ada di lantai 8, tempat istirahat mahasiswa di bangku yang disediakan, dan lainnya.


                                       

"Jadi lebih luas, bagus, tempat buat mahasiswa berkumpul, lebih nyaman, memberi fasilitas yang memadai untuk aktivitas mahasiswa, intinya sih renovasi ini untuk kebaikan dan kenyamanan bersama, terutama mahasiswa" ujar Ibu Hayu, salah satu Dosen di Universitas Sahid Jakarta.

Selain dosen adapun tanggapan dari salah satu mahasiswi, Dhelana,  tentang pembangunan lobby, "Bagus sudah direnovasi, rapi, ya walaupun belum terlihat rapi nya, nanti setelah jadi akan lebih tertata dan terlihat bagus. Bisa buat tempat duduk-duduk juga, sebelumnya kan lebih sering nya di kantin atau di perpustakaan, sekarang bisa jadi duduk-duduk di lobby karena tempatnya lebih luas".

Harapan kedepannya untuk lobby di lantai satu, bisa membuat semua penghuni kampus nyaman dan bisa menarik perhatian dari pendatang baru di Universitas Sahid Jakarta.

Kisah Firdan Ajak Teman Tuli Kerja di Bakso Rusuk, Sempat Salah Paham dengan Pembeli



Baru sekitar satu bulan, Muhammad Firdan (25) membangun usaha tempat makan bernama Bakso Rusuk Teman Tuli di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Sesuai dengan namanya, ia turut mengikutsertakan dua karyawan penyandang tuna rungu di bisnis kulinernya itu. Anak muda itu ingin membuktikan bahwa semua orang yang mengalami keterbatasan fisik berhak mendapatkan pekerjaan. Percik semangat Firdan itu juga terinspirasi oleh sosok pendiri Kopi Tuli (Koptul) yang mempekerjakan sejumlah karyawan tuli. Awalnya, Firdan sebenarnya ingin membangun usaha toko kopi layaknya Kopi Tuli. Namun, dananya belum mencukupi untuk membangun usaha itu sehingga ia beralih membuka usaha tempat makan bakso. "Pengalaman sebelumnya keluarga pernah jual bakso rusuk, saya combine usaha bakso rusuk dengan mengajak teman-teman tuli," ungkapnya pada Rabu (4/12/2019).








Ia kemudian menawarkan lowongan pekerjaan sebagai karyawan usahanya di komunitas tuli Nyatanya, tak sedikit dari teman-teman tuli yang membutuhkan pekerjaan. "Awal menggaet karyawan tuli dari komunitas. Saya ajarin yang mau bekerja. Mereka rata-rata memang butuh pekerjaan," terangnya. Dari komunitas itu, Firdan mendapatkan dua karyawan tuli yang masih muda.

Pada tahap awal bekerja, mereka berdua masih diajarkan dalam menyajikan menu. Nantinya, mereka akan diajarkan bagaimana mengolah sendiri bakso rusuk. "Saya ingin mengenalkan ke mereka secara bertahap dan pelan-pelan.

" Dalam usahanya ini, Firdan mengedepankan usaha dengan pelayanan yang berbeda ketimbang tempat makan bakso pada umumnya. Di setiap meja terdapat sebuah petunjuk alfabet mengenai bahasa isyarat.

Pria lulusan S1 Universitas Bina Nusantara jurusan Manajemen Perhotelan tersebut ingin sekaligus memberikan sedikit wawasan terkait bahasa isyarat kepada pengunjung. Petunjuk itu sebagai edukasi awal kala berinteraksi dengan teman-teman tuli. Sebab, Di Bakso Teman Tuli, pengunjung tak hanya sekadar membeli tetapi turut menyadari keberadaan teman-teman tuli.

"Saya ingin mengenalkan kepada konsumen bahwa di sini pun ada edukasinya," tuturnya. Firdan mengatakan daging bakso berasal dari rusuk sapi. Sempat terjadi kesalahpahaman antara karyawan tuli dan pembeli saat memesan makanan. Firdan mengatakan saat itu karyawan tuli salah membawakan pesanan yang diminta oleh pembeli. Pembeli itu menginginkan menu bakso dan rusuk digabung.

Akhirnya saya jelaskan kepada ibu itu dan memberikan pengertian. Pembeli itu maklum," terangnya. Ke depannya, tak hanya usaha ini saja Firdan mempekerjakan karyawan tuli. Ia ingin mengepakkan sayap bisnis kuliner lainnya dengan mengikutsertakan mereka. "Semua orang berhak bekerja, enggak menutup kemungkinan orang dengan keterbatasan itu juga bisa bekerja,"